Horeeeee..... Akhirnyaaaaaaaaaaaa...Skor TOEFL-ku melewati angka 550 juga... 570 tepatnya:)) Alhamdulillah... Senangnyaaa... setelah melalui tes yang ke 13 gitu lho... Aku pasti akan merindukan masa2 itu... Masa2 belajar TOEFL di kantor, di rumah...di hari kerja, di akhir pekan... sebelum tidur, di rumah makan, lagi antri dokter... Hehehe...
Next to-do-list: Siapin aplikasi beasiswa!
Hidup itu seperti pelangi.. merah ceria dan menarik laksana bunga mawar.. jingga seromantis langit senja.. kuning selembut dan sehangat cahaya mentari pagi.. hijau yang damai dan meneduhkan bagai pohon yang rimbun... biru secerah langit di angkasa.. dan ungu seindah anggrek di halaman depan rumah.. Menyenangkan! :)
Monday, 11 January 2010
Wednesday, 30 December 2009
To Whom It May Concern
Enaknya jadi abdi negara, segala hal yang berkaitan dengan peningkatan kapasitas SDM (pada umumnya) akan didukung sepenuhnya oleh institusi dan juga atasan... Yah walau kitanya sendiri juga yang harus pro-aktif... Kalau tidak ada tawaran beasiswa sekolah/kursus yang mampir di unit kerja kita, ya kita yang mesti rajin cari info sendiri, tanya sana-sini... cari di internet... cari event pameran pendidikan... de-el-el... Karena seringkali surat tawaran yang datang ke ruangan sudah mepet waktu pendaftarannya, tinggal 2-3 hari lagi, ... atau bahkan sudah lewat masa berlakunya alias kadaluarsa... Anehnya... dari sejarah disposisinya, bisa dilihat, itu surat masuk ke departemen bisa jadi sudah 2-3 bulan sebelumnya... Saking sibuknya kali ya bapak2 n or ibu2 pejabat itu, sampai butuh waktu sekian lama untuk menurunkan surat itu...
Dengan pengalaman itu, maka aku berinisiatif untuk mempersiapkan segala persyaratan yang biasanya diperlukan untuk melamar beasiswa... Jadi kalau sewaktu-waktu ada tawaran, semua dokumen sudah siap... Salah satu yang wajib yaitu surat rekomendasi atasan (baca: bos besar). Tahu sendiri lah yang namanya bos besar... banyak kesibukan, banyak acara, banyak undangan, banyak yang nyari, banyak yang berkepentingan untuk bertemu... Jadi penting banget untuk bikin surat rekomendasi jauh2 hari... Jangan sampai pas kita butuh cepat karena waktu mepet beliau sedang dinas keluar kota atau bahkan keluar negeri... bisa gagal total tuh rencana... Sementara di dunia birokrasi penting banget tuh yang namanya status jabatan... Biasanya ada persyaratan hanya pejabat tingkat tertentu yang tanda tangannya diakui oleh pemberi beasiswa...
Di tempat kerjaku yang baru, kebetulan bos besar sedang ada pendidikan dalam rangka mau naik tingkat selama 10 bulan. Jadilah ketika aku minta surat rekomendasi dari pejabat eselon di bawahnya yang ditunjuk sebagai pejabat pengganti selama beliau tidak ada, sang pejabat pengganti tidak berani untuk memberikan surat rekomendasi... Untunglah tidak berapa lama kemudian bos besar selesai pendidikan, bersamaan dengan adanya tawaran beasiswa... Tidak tunggu lama2... 2 minggu sebelum deadline memasukkan aplikasi, aku sudah menghadap tangan kanan bos besar untuk minta ijin menghadap bos besar untuk minta ijin sekolah sekaligus minta surat rekomendasi... Jawabannya, 'nanti dulu ya, bos besar sedang sibuk, jadi tunggu waktu yang tepat, nanti saya bicara dulu dengan beliau soal ini, nanti kamu saya kabari lagi, oh ya, kalau ketemu nanti basa basi dulu, jangan langsung ngomongin soal sekolah'... halah... kayak rakyat jelata mau menghadap raja saja...
Tunggu punya tunggu... 1 minggu berlalu... kok ga ada kabarnya lagi... Jadilah aku menghadap tangan kanan bos besar lagi, dengan membawa surat tawaran beasiswa, dan menunjukkan bahwa batas akhir memasukkan aplikasi tinggal 1 minggu lagi... Jawabannya, 'ya nanti ya, saya bicara dulu dengan beliau, kebetulan hari ini sedang keluar kota, (waktu itu hari rabu, kamis n jum'atnya libur tanggal merah), dan katanya juga beliau mau cuti, tapi sepertinya hari senin masuk...' halah... *panik mode on*
Seninnya...
Datang pagi-pagi ke kantor... Nongkrong di depan ruangan bos besar... Beliau sudah datang... tapi seperti yang diamanatkan tangan kanannya, tidak boleh mendahului sebelum si tangan kanan bilang dulu ke bos besar... Jadilah menunggu lagi... sang tangan kanan yang belum datang...
Setelah datang... Katanya, 'kamu tunggu di luar dulu... saya sendiri dulu aja yang masuk...' ... tik...tok...tik...tok... Lumayan lama juga rasanya waktu itu sebelum akhirnya aku boleh masuk... yess!! akhirnyaaa....
Ternyata orangnya baik... ramah... (baca: mood-nya lagi bagus) dan mendukung rencanaku... Jadinya malah ngobrol agak lama... tapi pas aku minta surat persetujuan rencana studiku dan minta surat rekomendasi yang sudah kubuat draft-nya, dengan maksud mempermudah beliau, supaya ga bikin dari awal, tapi tinggal mengoreksi... beliau sama sekali tidak mau membacanya, malah menyuruhku ke tangan kanannya dulu untuk memeriksa... jadi nanti beliau tinggal tanda tangan...
Menghadap lagi lah aku ke sang tangan kanan... Waktu itu aku agak ragu... Sang tangan kanan, memang sih ber-back ground sarjana S1... namun untuk usia sesenior itu, jelas2 gelar itu diraih ketika umurnya sudah senior... Bukannya under-estimate... tapi aku agak meragukan kemampuan bahasa internationalnya, mengingat surat rekomendasi yang kubuat dalam bahasa Inggris... Tapi karena bos besar yang memerintahkan, jadi kupikir ya pastilah beliau punya kemampuan untuk itu...
Baru saja beberapa detik beliau menatap draft yang kubuat, tiba-tiba... katanya... 'nah ini nih... saya sering lihat... to whom it may concern... artinya apa ya...?'
Gubrak!!!
Dengan pengalaman itu, maka aku berinisiatif untuk mempersiapkan segala persyaratan yang biasanya diperlukan untuk melamar beasiswa... Jadi kalau sewaktu-waktu ada tawaran, semua dokumen sudah siap... Salah satu yang wajib yaitu surat rekomendasi atasan (baca: bos besar). Tahu sendiri lah yang namanya bos besar... banyak kesibukan, banyak acara, banyak undangan, banyak yang nyari, banyak yang berkepentingan untuk bertemu... Jadi penting banget untuk bikin surat rekomendasi jauh2 hari... Jangan sampai pas kita butuh cepat karena waktu mepet beliau sedang dinas keluar kota atau bahkan keluar negeri... bisa gagal total tuh rencana... Sementara di dunia birokrasi penting banget tuh yang namanya status jabatan... Biasanya ada persyaratan hanya pejabat tingkat tertentu yang tanda tangannya diakui oleh pemberi beasiswa...
Di tempat kerjaku yang baru, kebetulan bos besar sedang ada pendidikan dalam rangka mau naik tingkat selama 10 bulan. Jadilah ketika aku minta surat rekomendasi dari pejabat eselon di bawahnya yang ditunjuk sebagai pejabat pengganti selama beliau tidak ada, sang pejabat pengganti tidak berani untuk memberikan surat rekomendasi... Untunglah tidak berapa lama kemudian bos besar selesai pendidikan, bersamaan dengan adanya tawaran beasiswa... Tidak tunggu lama2... 2 minggu sebelum deadline memasukkan aplikasi, aku sudah menghadap tangan kanan bos besar untuk minta ijin menghadap bos besar untuk minta ijin sekolah sekaligus minta surat rekomendasi... Jawabannya, 'nanti dulu ya, bos besar sedang sibuk, jadi tunggu waktu yang tepat, nanti saya bicara dulu dengan beliau soal ini, nanti kamu saya kabari lagi, oh ya, kalau ketemu nanti basa basi dulu, jangan langsung ngomongin soal sekolah'... halah... kayak rakyat jelata mau menghadap raja saja...
Tunggu punya tunggu... 1 minggu berlalu... kok ga ada kabarnya lagi... Jadilah aku menghadap tangan kanan bos besar lagi, dengan membawa surat tawaran beasiswa, dan menunjukkan bahwa batas akhir memasukkan aplikasi tinggal 1 minggu lagi... Jawabannya, 'ya nanti ya, saya bicara dulu dengan beliau, kebetulan hari ini sedang keluar kota, (waktu itu hari rabu, kamis n jum'atnya libur tanggal merah), dan katanya juga beliau mau cuti, tapi sepertinya hari senin masuk...' halah... *panik mode on*
Seninnya...
Datang pagi-pagi ke kantor... Nongkrong di depan ruangan bos besar... Beliau sudah datang... tapi seperti yang diamanatkan tangan kanannya, tidak boleh mendahului sebelum si tangan kanan bilang dulu ke bos besar... Jadilah menunggu lagi... sang tangan kanan yang belum datang...
Setelah datang... Katanya, 'kamu tunggu di luar dulu... saya sendiri dulu aja yang masuk...' ... tik...tok...tik...tok... Lumayan lama juga rasanya waktu itu sebelum akhirnya aku boleh masuk... yess!! akhirnyaaa....
Ternyata orangnya baik... ramah... (baca: mood-nya lagi bagus) dan mendukung rencanaku... Jadinya malah ngobrol agak lama... tapi pas aku minta surat persetujuan rencana studiku dan minta surat rekomendasi yang sudah kubuat draft-nya, dengan maksud mempermudah beliau, supaya ga bikin dari awal, tapi tinggal mengoreksi... beliau sama sekali tidak mau membacanya, malah menyuruhku ke tangan kanannya dulu untuk memeriksa... jadi nanti beliau tinggal tanda tangan...
Menghadap lagi lah aku ke sang tangan kanan... Waktu itu aku agak ragu... Sang tangan kanan, memang sih ber-back ground sarjana S1... namun untuk usia sesenior itu, jelas2 gelar itu diraih ketika umurnya sudah senior... Bukannya under-estimate... tapi aku agak meragukan kemampuan bahasa internationalnya, mengingat surat rekomendasi yang kubuat dalam bahasa Inggris... Tapi karena bos besar yang memerintahkan, jadi kupikir ya pastilah beliau punya kemampuan untuk itu...
Baru saja beberapa detik beliau menatap draft yang kubuat, tiba-tiba... katanya... 'nah ini nih... saya sering lihat... to whom it may concern... artinya apa ya...?'
Gubrak!!!
Monday, 7 December 2009
Bandung Kini
Awal dekade 1990 an...
Masih melekat di ingatan... Pelajaran IPS tentang sebutan kota2 di Indonesia seperti: Surabaya kota pahlawan, Cirebon kota udang, Bogor kota hujan, Bandung kota kembang, de-el-el. Surabaya disebut kota pahlawan karena sejarahnya. Cirebon disebut kota udang karena para nelayan di sana banyak menghasilkan udang. Bogor disebut kota hujan karena intensitas hujan di sana memang tinggi. Bandung disebut kota kembang karena banyak kembangnya alias konon kota Bandung lingkungannya asri, banyak tamannya, teduh banyak pepohonan, hawanya sejuk, airnya jernih dari pegunungan... oh yeaah...?? Well mungkin dulu memang begitu...
Hampir 20 tahun kemudian, aku pun pindah ke kota kembang ini.. Aku lama tinggal di kota pantai...Jadi aku sudah terbiasa dengan hawa yang panas, sinar matahari yang terik, mandi minimal 2x sehari, dan setiap masuk rumah atau kamar pastilah otomatis jari ini langsung menyalakan kipas angin...bahkan di malam hari pun kipas angin selalu on, padahal sudah pakai celana pendek dan kaos tanpa lengan...itu aja bangun tidur masih keringetan kalau hawanya lagi panas banget...
Maka begitu pindah ke sini...hmm.. asyiik.. hawa sejuk begini enak juga... bangun tidur bawaannya maleees banget untuk bangkit... habisnya dingin sih...pas banget buat tidur.. mandi sehari sekali...tidur dengan menyalakan kipas angin dan tidak pakai selimut alhasil pagi2 kedinginan dan ingus meler... Kalau aku bilang udaranya dingin, orang2 Bandung bilang tidak--biasa saja.. Kalau aku bilang udaranya pas--ga dingin tapi juga ga panas--, orang2 Bandung bilang panas banget...
Tapi lama2... tubuh cepat menyesuaikan... Itu cuma fase adaptasi aja sebagai mantan gadis pantura... Sekarang ini Bandung rasanya panas juga.. Kota yang asri dan teduh itu mungkin cuma tinggal di beberapa tempat di kota yang masih dijaga keasliannya... Selain itu, mungkin sekarang lebih cocok disebut Bandung kota FO alias factory outlet, saking banyaknya orang jualan baju di sini... Sisanya...macet, tidak teratur, banyak polusi, n gersang... Di kota perluasannya, yang banyak terlihat sekarang adalah sawah2 yang tergusur dengan toko2 swalayan, supermarket dan pembangunan perumahan yang tidak ditata lingkungannya...
Sungai2nya.. hmm... ini ternyata efek dari Bandung kota FO itu. Saking banyaknya pabrik tekstil di sini, sudah tidak terkontrol lagi (atau memang dibiarkan) oleh pemerintah daerah... Air buangannya mencemari sungai2 di hulu Citarum... Warnanya hitam, baunya...hmmm...busuk bukan main... Ditambah lagi dengan kebiasaan warganya yang tipis kesadarannya akan kebersihan... Jadilah sisi sungai berfungsi sekaligus sebagai tempat pembuangan sampah...
Kalau hujan.. ups.. genangan air di mana2.. Sampah mengalir deras di sungai...
Kembang di Bandung... Hmmm di mana ya pernah kulihat... Paling2 yang kulihat tinggal di taman halaman depan rumah kontrakan jika ia sedang berbunga... atau 1-2 kembang mengintip dari balik tembok halaman tetangga...
Masih melekat di ingatan... Pelajaran IPS tentang sebutan kota2 di Indonesia seperti: Surabaya kota pahlawan, Cirebon kota udang, Bogor kota hujan, Bandung kota kembang, de-el-el. Surabaya disebut kota pahlawan karena sejarahnya. Cirebon disebut kota udang karena para nelayan di sana banyak menghasilkan udang. Bogor disebut kota hujan karena intensitas hujan di sana memang tinggi. Bandung disebut kota kembang karena banyak kembangnya alias konon kota Bandung lingkungannya asri, banyak tamannya, teduh banyak pepohonan, hawanya sejuk, airnya jernih dari pegunungan... oh yeaah...?? Well mungkin dulu memang begitu...
Hampir 20 tahun kemudian, aku pun pindah ke kota kembang ini.. Aku lama tinggal di kota pantai...Jadi aku sudah terbiasa dengan hawa yang panas, sinar matahari yang terik, mandi minimal 2x sehari, dan setiap masuk rumah atau kamar pastilah otomatis jari ini langsung menyalakan kipas angin...bahkan di malam hari pun kipas angin selalu on, padahal sudah pakai celana pendek dan kaos tanpa lengan...itu aja bangun tidur masih keringetan kalau hawanya lagi panas banget...
Maka begitu pindah ke sini...hmm.. asyiik.. hawa sejuk begini enak juga... bangun tidur bawaannya maleees banget untuk bangkit... habisnya dingin sih...pas banget buat tidur.. mandi sehari sekali...tidur dengan menyalakan kipas angin dan tidak pakai selimut alhasil pagi2 kedinginan dan ingus meler... Kalau aku bilang udaranya dingin, orang2 Bandung bilang tidak--biasa saja.. Kalau aku bilang udaranya pas--ga dingin tapi juga ga panas--, orang2 Bandung bilang panas banget...
Tapi lama2... tubuh cepat menyesuaikan... Itu cuma fase adaptasi aja sebagai mantan gadis pantura... Sekarang ini Bandung rasanya panas juga.. Kota yang asri dan teduh itu mungkin cuma tinggal di beberapa tempat di kota yang masih dijaga keasliannya... Selain itu, mungkin sekarang lebih cocok disebut Bandung kota FO alias factory outlet, saking banyaknya orang jualan baju di sini... Sisanya...macet, tidak teratur, banyak polusi, n gersang... Di kota perluasannya, yang banyak terlihat sekarang adalah sawah2 yang tergusur dengan toko2 swalayan, supermarket dan pembangunan perumahan yang tidak ditata lingkungannya...
Sungai2nya.. hmm... ini ternyata efek dari Bandung kota FO itu. Saking banyaknya pabrik tekstil di sini, sudah tidak terkontrol lagi (atau memang dibiarkan) oleh pemerintah daerah... Air buangannya mencemari sungai2 di hulu Citarum... Warnanya hitam, baunya...hmmm...busuk bukan main... Ditambah lagi dengan kebiasaan warganya yang tipis kesadarannya akan kebersihan... Jadilah sisi sungai berfungsi sekaligus sebagai tempat pembuangan sampah...
Kalau hujan.. ups.. genangan air di mana2.. Sampah mengalir deras di sungai...
Kembang di Bandung... Hmmm di mana ya pernah kulihat... Paling2 yang kulihat tinggal di taman halaman depan rumah kontrakan jika ia sedang berbunga... atau 1-2 kembang mengintip dari balik tembok halaman tetangga...
Berkarya di Luar Negeri = Pengkhianat Bangsa..??
Kemarin sore ada yang menarik di tayangan Kick Andy di Metro TV. Judul topiknya: Berprestasi di Negeri Orang. Isinya tentang kisah2 orang Indonesia yang (pintar dan) sukses berkarier di luar negeri. Sayang nontonnya agak telat, jadi aku cuma lihat 2,5 bintang tamu dari entah berapa jumlah sebenarnya yang Bung Andy wawancara pada tayangan itu.
Yang 0,5 itu adalah Kent Sutanto. Kenapa 0,5.., ya karena aku gak lihat dari awal wawancaranya.. :D Intinya, dia sudah tinggal di Jepang sejak 35 tahun lalu.. dari mulai melanjutkan sekolah sampai akhirnya dia mengajar di universitas tsb.. Yang menarik, warga negaranya tetap Indonesia, padahal secara etnis dia juga bukan orang Indonesia asli tapi keturunan tionghoa.. Salut deh Oom... masih punya jiwa nasionalisme... (Jadi ingat tetangga sebelah... yang anak perempuannya yang sedang hamil 7 bulan khusus datang ke Negeri Paman Sam untuk melahirkan di sana supaya anaknya memperoleh kewarganegaraan Amerika... Katanya supaya nanti gampang sekolahnya di sana... halah! How egoist...)
Ada lagi M. Reza, pria berusia 35 tahun, alumni Elektro ITB, peraih Ganesha Prize yang melanjutkan S2 di TU Delft Belanda dan meraih gelar doktor di bidang yang sama, dan kini... bekerja sebagai project manager di suatu perusahaan di Swedia.. Lucunya dulu setelah lulus S2, waktu balik ke Indonesia dan melamar ke sekitar 50 perusahaan tidak ada yang menerima.. Terus juga waktu ditanya apakah dia ingin kembali ke Indonesia, dia bilang untuk saat ini tidak.. karena dulu ketika beasiswa doktornya habis (4 tahun) dia belum selesai juga, sehingga dia harus bekerja untuk membiayai kuliahnya supaya selesai... Sooo..? Does it mean that he still looking for money to cover the tuition fee he paid to continue his study..? Atau kah fasilitas dan penghargaan yang kurang di Indonesia sehingga orang2 seperti dia enggan kembali..? Yang pasti orang2 seperti ini mengingatkanku pada suamiku sendiri.. secara si Mas juga alumni dari institut yang sama.. tipikal orang2 seperti itulah... hihihi...
Tamu terakhir, Ibu Etin Anwar. Alumni IAIN mana ya aku lupa... pokoknya IAIN deh... Pastinya bidang ilmunya tentang agama Islam. Tapi S3 nya bidang filsafat. Sekarang dia mengajar di suatu perguruan tinggi di Amerika. Wow..! Salut... Mengajar agama Islam kaitannya dengan gender dan juga filsafat di negara adikuasa itu.. Ketika ditanya apakah dia mau kembali ke Indonesia.. jawaban Ibu ini cukup cerdas.. Dia bilang 'dengan senang hati'... buuut... setiap orang melakukan sesuatu atas dasar value.. dan value nya dia yaitu manfaat.. Intinya, dia merasa bahwa untuk saat ini dengan menjadi dosen agama dan filsafat di Amerika dia mendapatkan value itu lebih daripada jika dia mengajar di sini.. Ya masuk akal, karena 90% muridnya orang bule yang bukan orang Islam, barangkali nilai dakwahnya lebih tinggi...
Kalau melihat kondisi seperti itu ya wajar saja.. Di Indonesia ini terlalu jauh gap antara yang kaya dan yang miskin, yang kuat dan yang lemah, yang pintar dan yang bodoh, yang berpikiran maju dan yang tertinggal.. Jadi kalau yang pintar dan maju merasa kondisi di Indonesia tidak bisa memenuhi visi dan misi serta ambisinya ya tidak bisa disalahkan juga kalau akhirnya mereka lari ke luar negeri... Apakah di luar negeri mereka berjuang dengan tujuan suatu saat untuk membangun negerinya atau untuk dirinya sendiri ya itu juga pilihan masing2...
Mungkin sudah terlalu banyak yang kecewa dengan negeri ini. Dengan para pemimpinnya yang tidak amanah, berbagai lembaga negara yang sudah banyak mengkhianati rakyat, keadilan yang bisa dibeli dengan uang... Sampai bosan rasanya nonton berita di tv yang isinya lagi2 soal skandal korupsi, dana APBN yang banyak bocor, ketidakadilan, kasus suap, pembunuhan karena masalah uang.. Sepertinya pemimpin2 di negeri ini pada gila harta dan jabatan... Yang senior2 mustahil rasanya untuk dikembalikan ke jalan yang benar... Tunas2 bangsa yang baru tumbuh, selayaknya dididik dengan benar, dibekali dengan pendidikan agama dan moral yang baik, sehingga sehat mentalnya.. Bisa membedakan mana yang benar dan salah dan yang paling penting... memilih untuk melakukan yang benar...
Balik ke diri sendiri... Saat ini aku n si Mas lagi berusaha untuk dapat beasiswa ke luar. Inginnya ke negara maju lah... Supaya kami bisa belajar tidak hanya mata kuliahnya, tapi juga secara keseluruhan kehidupan orang2 di sana, budaya yang baik2, pola hidup yang baik2, kebiasaan--sifat--karakter dari orang2 di negara2 maju yang baik2... Kami ingin mencari pengalaman dan belajar langsung dari orang2 yang turut berpartisipasi membentuk negaranya menjadi maju.. Dan berharap sekembalinya nanti kami bisa turut berpartisipasi juga memajukan negara Indonesia.
Note: ditulis dalam rangka muak dengan segenap rasa ketidakberdayaan ini... di kantor, pada jam kerja, dengan menggunakan fasilitas internet yang juga dibiayai kantor... Maafkan ya rakyat Indonesia yang sudah menggajiku melalui dana APBN yang sumbernya dari uang rakyat...
Yang 0,5 itu adalah Kent Sutanto. Kenapa 0,5.., ya karena aku gak lihat dari awal wawancaranya.. :D Intinya, dia sudah tinggal di Jepang sejak 35 tahun lalu.. dari mulai melanjutkan sekolah sampai akhirnya dia mengajar di universitas tsb.. Yang menarik, warga negaranya tetap Indonesia, padahal secara etnis dia juga bukan orang Indonesia asli tapi keturunan tionghoa.. Salut deh Oom... masih punya jiwa nasionalisme... (Jadi ingat tetangga sebelah... yang anak perempuannya yang sedang hamil 7 bulan khusus datang ke Negeri Paman Sam untuk melahirkan di sana supaya anaknya memperoleh kewarganegaraan Amerika... Katanya supaya nanti gampang sekolahnya di sana... halah! How egoist...)
Ada lagi M. Reza, pria berusia 35 tahun, alumni Elektro ITB, peraih Ganesha Prize yang melanjutkan S2 di TU Delft Belanda dan meraih gelar doktor di bidang yang sama, dan kini... bekerja sebagai project manager di suatu perusahaan di Swedia.. Lucunya dulu setelah lulus S2, waktu balik ke Indonesia dan melamar ke sekitar 50 perusahaan tidak ada yang menerima.. Terus juga waktu ditanya apakah dia ingin kembali ke Indonesia, dia bilang untuk saat ini tidak.. karena dulu ketika beasiswa doktornya habis (4 tahun) dia belum selesai juga, sehingga dia harus bekerja untuk membiayai kuliahnya supaya selesai... Sooo..? Does it mean that he still looking for money to cover the tuition fee he paid to continue his study..? Atau kah fasilitas dan penghargaan yang kurang di Indonesia sehingga orang2 seperti dia enggan kembali..? Yang pasti orang2 seperti ini mengingatkanku pada suamiku sendiri.. secara si Mas juga alumni dari institut yang sama.. tipikal orang2 seperti itulah... hihihi...
Tamu terakhir, Ibu Etin Anwar. Alumni IAIN mana ya aku lupa... pokoknya IAIN deh... Pastinya bidang ilmunya tentang agama Islam. Tapi S3 nya bidang filsafat. Sekarang dia mengajar di suatu perguruan tinggi di Amerika. Wow..! Salut... Mengajar agama Islam kaitannya dengan gender dan juga filsafat di negara adikuasa itu.. Ketika ditanya apakah dia mau kembali ke Indonesia.. jawaban Ibu ini cukup cerdas.. Dia bilang 'dengan senang hati'... buuut... setiap orang melakukan sesuatu atas dasar value.. dan value nya dia yaitu manfaat.. Intinya, dia merasa bahwa untuk saat ini dengan menjadi dosen agama dan filsafat di Amerika dia mendapatkan value itu lebih daripada jika dia mengajar di sini.. Ya masuk akal, karena 90% muridnya orang bule yang bukan orang Islam, barangkali nilai dakwahnya lebih tinggi...
Kalau melihat kondisi seperti itu ya wajar saja.. Di Indonesia ini terlalu jauh gap antara yang kaya dan yang miskin, yang kuat dan yang lemah, yang pintar dan yang bodoh, yang berpikiran maju dan yang tertinggal.. Jadi kalau yang pintar dan maju merasa kondisi di Indonesia tidak bisa memenuhi visi dan misi serta ambisinya ya tidak bisa disalahkan juga kalau akhirnya mereka lari ke luar negeri... Apakah di luar negeri mereka berjuang dengan tujuan suatu saat untuk membangun negerinya atau untuk dirinya sendiri ya itu juga pilihan masing2...
Mungkin sudah terlalu banyak yang kecewa dengan negeri ini. Dengan para pemimpinnya yang tidak amanah, berbagai lembaga negara yang sudah banyak mengkhianati rakyat, keadilan yang bisa dibeli dengan uang... Sampai bosan rasanya nonton berita di tv yang isinya lagi2 soal skandal korupsi, dana APBN yang banyak bocor, ketidakadilan, kasus suap, pembunuhan karena masalah uang.. Sepertinya pemimpin2 di negeri ini pada gila harta dan jabatan... Yang senior2 mustahil rasanya untuk dikembalikan ke jalan yang benar... Tunas2 bangsa yang baru tumbuh, selayaknya dididik dengan benar, dibekali dengan pendidikan agama dan moral yang baik, sehingga sehat mentalnya.. Bisa membedakan mana yang benar dan salah dan yang paling penting... memilih untuk melakukan yang benar...
Balik ke diri sendiri... Saat ini aku n si Mas lagi berusaha untuk dapat beasiswa ke luar. Inginnya ke negara maju lah... Supaya kami bisa belajar tidak hanya mata kuliahnya, tapi juga secara keseluruhan kehidupan orang2 di sana, budaya yang baik2, pola hidup yang baik2, kebiasaan--sifat--karakter dari orang2 di negara2 maju yang baik2... Kami ingin mencari pengalaman dan belajar langsung dari orang2 yang turut berpartisipasi membentuk negaranya menjadi maju.. Dan berharap sekembalinya nanti kami bisa turut berpartisipasi juga memajukan negara Indonesia.
Note: ditulis dalam rangka muak dengan segenap rasa ketidakberdayaan ini... di kantor, pada jam kerja, dengan menggunakan fasilitas internet yang juga dibiayai kantor... Maafkan ya rakyat Indonesia yang sudah menggajiku melalui dana APBN yang sumbernya dari uang rakyat...
Monday, 23 November 2009
The Naked Traveler
Begitu baca buku ini, yang terbayang tentang penulisnya adalah seorang perempuan modern, mandiri dan pemberani... Sayangnya, dia menyembunyikan identitas aslinya... Entah kenapa ya.. Takut terkenal kali ya...
Bagaimana tidak, Trinity--begitu nama samarannya--sudah biasa travelling seorang diri ataupun bersama orang asing yang ditemui selama perjalanannya berpetualang ke 33 negara... Wow... Sesuatu yang tidak mungkin akan kulakukan.. Bukannya gak berani ya... ya cuma garing aja gitu, menurut aku... apa enaknya coba travelling sendirian...
Back to the book...
Banyak cerita menarik yang dia tulis di buku ini. Sesuatu yang sekilas antara dan penting gak penting ya... Tapi tidak mungkin tertera dalam brosur wisata atau diberitahukan oleh petugas biro perjalanan... Sesuatu yang kita gak bakal tahu kalau gak tanya... Jadi ya memang harus diketahui dari pengalaman orang lain...
Beberapa dari sesuatu itu antara lain:
- di eropa sono udah ada closet yang flushing-nya dengan cara membuka pintu
- tidak semua pramugari/a cantik/ganteng, bertubuh ideal, muda dan rapi...
di luar negeri orang gendut, gay, rambut awut2an, dan bahkan yang seumuran
kakek-nenek pun bisa jadi pramugari/a...
- hostel di luar negeri tidak membedakan jenis kelamin dalam satu kamar...
jadi bisa aja 1 kamar ber-5 dan kamu 1-1-nya cewek di kamar itu... hiiii...
- ada pulau di Sumatera Barat (apa ya namanya aku lupa) yang konon indah,
sangat terkenal di Italia, tapi kok aku aja baru dengar tuh nama pulaunya...
ternyata oh ternyata... pulau itu memang dikelola sama orang Italia...
pas aku searching di internet, hmm, katanya sih memang 'dipinjamkan' oleh
pemda sana untuk jangka waktu 30 tahun... hlah... nanti kalau sudah tiba
waktunya 'dikembalikan'... siapa yang nagih ya... barangkali yang buat
keputusan untuk 'meminjamkan' sudah pensiun... dan generasi selanjutnya
sudah lupa atau bahkan gak ada yang tahu menahu urusan itu...
- pohon pisang bisa jadi tanaman yang menakjubkan bagi turis dari negara
nontropis...
- di Thailand, perempuan jadi-jadian bisa jadi lebih cantik dari perempuan asli...
- dan lain sebagainya.... (cari aja bukunya kalau penasaran... terutama untuk
yang doyan travelling... bagi yang tidak pun tetap seru lah buat
menambah wawasan dibaca di waktu senggang...)
Bagaimana tidak, Trinity--begitu nama samarannya--sudah biasa travelling seorang diri ataupun bersama orang asing yang ditemui selama perjalanannya berpetualang ke 33 negara... Wow... Sesuatu yang tidak mungkin akan kulakukan.. Bukannya gak berani ya... ya cuma garing aja gitu, menurut aku... apa enaknya coba travelling sendirian...
Back to the book...
Banyak cerita menarik yang dia tulis di buku ini. Sesuatu yang sekilas antara dan penting gak penting ya... Tapi tidak mungkin tertera dalam brosur wisata atau diberitahukan oleh petugas biro perjalanan... Sesuatu yang kita gak bakal tahu kalau gak tanya... Jadi ya memang harus diketahui dari pengalaman orang lain...
Beberapa dari sesuatu itu antara lain:
- di eropa sono udah ada closet yang flushing-nya dengan cara membuka pintu
- tidak semua pramugari/a cantik/ganteng, bertubuh ideal, muda dan rapi...
di luar negeri orang gendut, gay, rambut awut2an, dan bahkan yang seumuran
kakek-nenek pun bisa jadi pramugari/a...
- hostel di luar negeri tidak membedakan jenis kelamin dalam satu kamar...
jadi bisa aja 1 kamar ber-5 dan kamu 1-1-nya cewek di kamar itu... hiiii...
- ada pulau di Sumatera Barat (apa ya namanya aku lupa) yang konon indah,
sangat terkenal di Italia, tapi kok aku aja baru dengar tuh nama pulaunya...
ternyata oh ternyata... pulau itu memang dikelola sama orang Italia...
pas aku searching di internet, hmm, katanya sih memang 'dipinjamkan' oleh
pemda sana untuk jangka waktu 30 tahun... hlah... nanti kalau sudah tiba
waktunya 'dikembalikan'... siapa yang nagih ya... barangkali yang buat
keputusan untuk 'meminjamkan' sudah pensiun... dan generasi selanjutnya
sudah lupa atau bahkan gak ada yang tahu menahu urusan itu...
- pohon pisang bisa jadi tanaman yang menakjubkan bagi turis dari negara
nontropis...
- di Thailand, perempuan jadi-jadian bisa jadi lebih cantik dari perempuan asli...
- dan lain sebagainya.... (cari aja bukunya kalau penasaran... terutama untuk
yang doyan travelling... bagi yang tidak pun tetap seru lah buat
menambah wawasan dibaca di waktu senggang...)
Monday, 16 November 2009
Dyah/Diah Yang Mana..?
Menurutmu nama (perempuan) apa yang paling pasaran di Indonesia...? Hmmm... di pulau Jawa tepatnya... Dewi? Indah? Sari?... atau Putri..?
Well, kalau menurut aku, nama yang paling pasaran untuk perempuan di pulau Jawa adalah... : Diah or Dyah... Intinya itulah.. sama aja tho bunyinya...
Dimulai dariiii... enyak ku sendiri... Begitu pula nama kakak n adik kandungnya... (btw, mbahku ini kurang kreatif juga ngasih nama 3 anak perempuannya dengan nama depan yang sama... Untunglah nama panjangannya n nama panggilannya beda2).
Waktu SD dan SMP kalau ga salah juga punya teman sekolah dengan nama itu tapi cuma 1-2... Itu pun aku ga akrab.... so ga masalah.. Jadi masalahnya di mana..?
Dimulai dari punya tetangga yang juga teman SMU dengan nama Dyah K... yang di kemudian hari berhasil 'menjerumuskan'ku (hehe...lebay ah... thx anyway.. karena di sini pula lah aku menemukan jodohku.. :) masuk di instansi di mana aku merasa terjebak untuk terlibat dalam sistem birokrasi yang yang seringkali tidak jelas batas antara hitam dan putih...
Selanjutnya, di bagian yang sama, lupa gimana mulanya... mungkin karena kantornya sebelahan, sama2 anak kos yang kos nya juga deketan... dan karena dalam beberapa hal kami punya kesamaan sehingga berteman pula lah aku dengan orang bernama Diah... Sebut aja namanya Diah N.... Nah, Diah N. ini sobatan dengan Diah S... Jadi kadang aku suka pergi bertiga dengan 2 orang bernama Diah dimana mereka pun Diah N. dan Diah S. masing2 saling memanggil dengan nama yang sama... *bingung mode on* *kayak ga ada alternatif panggilan lain aja*
Karena aku cukup dekat dengan Diah Dyah itu, susahnya kalau aku lagi cerita tentang Diah ke orang lain, ke calon suamiku misalnya... pastilah pertanyaannya... "Diah yang mana nih?"
Lain cerita... suatu hari pernah juga ada yang tanya ke aku dengan yakinnya.. "Kamu anaknya Bu Dyah ya?" walau heran dari mana mereka kenal ibuku, dengan mantap kujawab "Iya. Kok tahu?" Setelah orang itu tanya2 hal lain yang ga nyambung, barulah aku sadar bahwa yang dimaksud adalah wanita tua yang punya posisi di bagian di mana aku berada... Ya aku ralatlah... Ibuku punya nama yang sama..., tapi bukan yang ituuuu....
Selanjutnya... makin banyak aja yang mengira aku anak beliau... Katanya mukaku mirip sama ibu itu... Huuuh... mirip apanya..? Mirip dari Hong Kong..?? Jauh lah yauw... Jauh lebih cantikan akuuu... hihihi...
Lalu, beberapa waktu yang lalu sebelum menikah, aku berencana untuk pindah ke Bandung... well, atas permintaan calon suami waktu itu... Tanya sana sini... sampailah pada suatu informasi di mana untuk urusan mutasi, maka yang suka ngurusin namanya Bu Diah... (juga?!) Ok. Jadilah kuurus ke Ibu Diah mutasi...
Selanjutnya, aku harus cari informasi juga ke tempat yang akan menerima... Karena calon suamiku waktu itu kebetulan ada urusan kerjaan juga ke tempat di mana aku akan pindah.., maka dia sekalian cari info juga di sana, di bagian mana kira2 aku bisa pindah... Bertemulah dia dengan dengan seseorang yang (lagi-lagi) bernama Diah! Diah yang ini sudah cukup familiar karena sama2 satu angkatan masuk instansi... cuma ga pernah akrab aja.
Maka ketika calon suamiku telfon dan bilang, "Dek, kenal Diah R. ga? Satu angkatan masuk sama kita... Tau gak, ternyata dia udah duluan pindah ke sini... Jadi nanti temanmu di sini namanya Diah juga... hahaha."
What?? Again..?!!
Well, kalau menurut aku, nama yang paling pasaran untuk perempuan di pulau Jawa adalah... : Diah or Dyah... Intinya itulah.. sama aja tho bunyinya...
Dimulai dariiii... enyak ku sendiri... Begitu pula nama kakak n adik kandungnya... (btw, mbahku ini kurang kreatif juga ngasih nama 3 anak perempuannya dengan nama depan yang sama... Untunglah nama panjangannya n nama panggilannya beda2).
Waktu SD dan SMP kalau ga salah juga punya teman sekolah dengan nama itu tapi cuma 1-2... Itu pun aku ga akrab.... so ga masalah.. Jadi masalahnya di mana..?
Dimulai dari punya tetangga yang juga teman SMU dengan nama Dyah K... yang di kemudian hari berhasil 'menjerumuskan'ku (hehe...lebay ah... thx anyway.. karena di sini pula lah aku menemukan jodohku.. :) masuk di instansi di mana aku merasa terjebak untuk terlibat dalam sistem birokrasi yang yang seringkali tidak jelas batas antara hitam dan putih...
Selanjutnya, di bagian yang sama, lupa gimana mulanya... mungkin karena kantornya sebelahan, sama2 anak kos yang kos nya juga deketan... dan karena dalam beberapa hal kami punya kesamaan sehingga berteman pula lah aku dengan orang bernama Diah... Sebut aja namanya Diah N.... Nah, Diah N. ini sobatan dengan Diah S... Jadi kadang aku suka pergi bertiga dengan 2 orang bernama Diah dimana mereka pun Diah N. dan Diah S. masing2 saling memanggil dengan nama yang sama... *bingung mode on* *kayak ga ada alternatif panggilan lain aja*
Karena aku cukup dekat dengan Diah Dyah itu, susahnya kalau aku lagi cerita tentang Diah ke orang lain, ke calon suamiku misalnya... pastilah pertanyaannya... "Diah yang mana nih?"
Lain cerita... suatu hari pernah juga ada yang tanya ke aku dengan yakinnya.. "Kamu anaknya Bu Dyah ya?" walau heran dari mana mereka kenal ibuku, dengan mantap kujawab "Iya. Kok tahu?" Setelah orang itu tanya2 hal lain yang ga nyambung, barulah aku sadar bahwa yang dimaksud adalah wanita tua yang punya posisi di bagian di mana aku berada... Ya aku ralatlah... Ibuku punya nama yang sama..., tapi bukan yang ituuuu....
Selanjutnya... makin banyak aja yang mengira aku anak beliau... Katanya mukaku mirip sama ibu itu... Huuuh... mirip apanya..? Mirip dari Hong Kong..?? Jauh lah yauw... Jauh lebih cantikan akuuu... hihihi...
Lalu, beberapa waktu yang lalu sebelum menikah, aku berencana untuk pindah ke Bandung... well, atas permintaan calon suami waktu itu... Tanya sana sini... sampailah pada suatu informasi di mana untuk urusan mutasi, maka yang suka ngurusin namanya Bu Diah... (juga?!) Ok. Jadilah kuurus ke Ibu Diah mutasi...
Selanjutnya, aku harus cari informasi juga ke tempat yang akan menerima... Karena calon suamiku waktu itu kebetulan ada urusan kerjaan juga ke tempat di mana aku akan pindah.., maka dia sekalian cari info juga di sana, di bagian mana kira2 aku bisa pindah... Bertemulah dia dengan dengan seseorang yang (lagi-lagi) bernama Diah! Diah yang ini sudah cukup familiar karena sama2 satu angkatan masuk instansi... cuma ga pernah akrab aja.
Maka ketika calon suamiku telfon dan bilang, "Dek, kenal Diah R. ga? Satu angkatan masuk sama kita... Tau gak, ternyata dia udah duluan pindah ke sini... Jadi nanti temanmu di sini namanya Diah juga... hahaha."
What?? Again..?!!
Emas
Satu-dua tahun belakangan ini aku baru sadar kalau emas itu tangguh untuk melindungi nilai uang terhadap inflasi... Kenapa..? Ya karena dia cukup stabil nilainya, tidak seperti rupiah yang termakan inflasi seiring berjalannya waktu. Tadinya hanya berniat untuk beli perhiasan aja... ya sambil investasi sambil bisa dipakai juga... sempat beli tuh satu gelang dan sepasang anting... eh tapi kan harganya kalau dijual jadi jatuh karena kalau ngejual ongkos bikinnya yang dulu kita bayar tidak dihitung... Terpikir juga untuk beli yang bentuknya polos gitu aja biar ongkosnya murah... Sempat beli juga satu cincin yang bentuknya simpel..., tapi jadinya malah ga pernah dipakai karena bentuknya terlalu simpel..., ga gaya sama sekali..., jadul malah kesannya... Berhubung aku juga sehari-hari ga suka pakai perhiasan emas (jadi pakainya cuma pas kondangan doang...) ya udahlah daripada beli perhiasan ga pernah dipakai kan mending sekalian aja beli emas lempengan logam mulia (LM) dengan kadar 99,99%...
Hanya saja dari dulu niat mau beli LM belum juga terlaksana karena masih mikir ini itu... nanti nyimpannya di mana n gimana lah de-el-el... Sampai tibalah suatu sore serelah tes TOEFL kemarin itu di ITB... Sesaat sebelum turun tangga menuju tempat parkiran si Mas ngeliat ada poster menarik tentang dinar & dirham sebagai alat pembayaran... Jadilah kami cari kios yang jual dinar-dirham untuk tanya-tanya... Yang jual lagi beres2 mau nutup kios.., untunglah dianya baik masih mau jelasin ke kami tentang dinar dirham itu....
Dinar-dirham yang dimaksud bukanlah mata uang beberapa negara di timur tengah sekarang yang sudah merupakan mata uang yang nilainya sesuai seperti yang tertera di kertas atau koin..., tapi dinar-dirham yang dipakai jaman Rasulullah dulu... di mana 1 koin dinar terbuat dari emas 22 karat seberat 4,25 gram dan 1 koin dirham terbuat dari perak murni seberat 2,975 gram...
Intinya, alat pembayaran ini relatif stabil... Well yang menggunakan memang masih komunitas tertentu saja..., tapi gapapa juga kalau kita ingin sekedar menyimpan untuk investasi..., ups, lindung nilai tepatnya... (masnya ngotot bahwa ini dinar-dirham ini bukan untuk investasi melainkan sekedar melindungi nilai uang kita terhadap inflasi).
Sebagai gambaran... dari jaman Rasulullah dulu harga seekor kambing tuh 1 dinar... Dengan harga emas sekarang, 1 dinar (=4,25 gram emas 22 karat) setara dengan sekitar 1,3 jutaan..., dan sekarang harga kambing emang sekitar segituan kan... hmmm...(conclusion: kambing juga bisa dijadikan alternatif lindung nilai rupiah terhadap inflasi, denga catatan kambingnya berumur paaaaanjaaaaang dan laaaaamaaaaa... :D)
Setelah kami pikir2, makin mantaplah niat kami untuk beli emas LM... Kenapa bukan dinar...? Karena agennya/yang jual kayaknya masih sedikit n peredarannya masih terbatas... Khawatir aja kalau nanti agak susah jualnya lagi... Apalagi yang memproduksi koin dinar itu perusahaan swasta... Kalau LM kan produksi PT. AnTam... so, kami pikir lebih meyakinkan lah...
Perburuan dimulai...
Dari hasil searching di Google, diketahui dari beberapa blog orang2, bahwa tidak semua toko emas jual LM... Dari sana pula aku dapat informasi bahwa di Bandung ini ada 3 toko yang biasa jual itu barang, yaitu: toko mas Buana di Kosambi, toko mas Topaz n toko mas Indah di Otista... Btw thx untuk para penulis blognya yang udah kasih info, jadi kami ga perlu ngedatengin toko emas di seluruh sudut kota Bandung satu per satu buat nanya, "jual emas batangan ga, om, tante, teh..?"
Btw, di Buana emas batangannya yang resmi mestinya ada sertifikatnya... tapi mereka juga jual yang ga pakai sertifikat... katanya sih dari AnTam nya sendiri emang ga ada sertifikatnya... (tapi kok kayaknya kurang meyakinkan ya...masa AnTam memproduksi ada yang pakai sertifikat ada yang enggak... mana harganya per gram sama aja sama yang pakai sertifikat...)... Mereka juga jual koin emas ONH... 1 koin beratnya 5 gram... harganya bisa lebih rendah sekitar seribu-dua ribu per gram nya dibandingkan harga LM nya AnTam... Fyi, koin emas ONH bukan keluaran AnTam, lupa keluaran PT apa tapi secara resmi didistribusikan oleh Pegadaian...
Pernah di lain waktu di Buana keabisan... Jadilah kami ke Otista... Topaz juga keabisan... Untungnya di Indah masih ada stok... Beda sama di Buana.., di Topaz n Indah emas batangan ga di display... Jadi mesti tanya dulu... (Btw, waktu itu, di kala di Buana n Topaz keabisan stok sama sekali, Indah masih punya banyak kayaknya... Habisnya pas kami tanya dia masih punya yang 5 gram, 10 gram, 25 gram, dst, dengan kuantitas lebih dari 1)... Fyi, makin besar beli batangannya harga per gram nya lebih murah... Untuk yang ga punya kartu BCA, jangan lupa kalau mau beli ambil uang tunai dulu, coz rata2 toko emas cuma punya mesin dari bank itu... Kalau mau tetap pakai mesin itu bisa2 aja sih... tapi kena charge 3% dari harga yang dibayar... sayang kan...
Hanya saja dari dulu niat mau beli LM belum juga terlaksana karena masih mikir ini itu... nanti nyimpannya di mana n gimana lah de-el-el... Sampai tibalah suatu sore serelah tes TOEFL kemarin itu di ITB... Sesaat sebelum turun tangga menuju tempat parkiran si Mas ngeliat ada poster menarik tentang dinar & dirham sebagai alat pembayaran... Jadilah kami cari kios yang jual dinar-dirham untuk tanya-tanya... Yang jual lagi beres2 mau nutup kios.., untunglah dianya baik masih mau jelasin ke kami tentang dinar dirham itu....
Dinar-dirham yang dimaksud bukanlah mata uang beberapa negara di timur tengah sekarang yang sudah merupakan mata uang yang nilainya sesuai seperti yang tertera di kertas atau koin..., tapi dinar-dirham yang dipakai jaman Rasulullah dulu... di mana 1 koin dinar terbuat dari emas 22 karat seberat 4,25 gram dan 1 koin dirham terbuat dari perak murni seberat 2,975 gram...
Intinya, alat pembayaran ini relatif stabil... Well yang menggunakan memang masih komunitas tertentu saja..., tapi gapapa juga kalau kita ingin sekedar menyimpan untuk investasi..., ups, lindung nilai tepatnya... (masnya ngotot bahwa ini dinar-dirham ini bukan untuk investasi melainkan sekedar melindungi nilai uang kita terhadap inflasi).
Sebagai gambaran... dari jaman Rasulullah dulu harga seekor kambing tuh 1 dinar... Dengan harga emas sekarang, 1 dinar (=4,25 gram emas 22 karat) setara dengan sekitar 1,3 jutaan..., dan sekarang harga kambing emang sekitar segituan kan... hmmm...(conclusion: kambing juga bisa dijadikan alternatif lindung nilai rupiah terhadap inflasi, denga catatan kambingnya berumur paaaaanjaaaaang dan laaaaamaaaaa... :D)
Setelah kami pikir2, makin mantaplah niat kami untuk beli emas LM... Kenapa bukan dinar...? Karena agennya/yang jual kayaknya masih sedikit n peredarannya masih terbatas... Khawatir aja kalau nanti agak susah jualnya lagi... Apalagi yang memproduksi koin dinar itu perusahaan swasta... Kalau LM kan produksi PT. AnTam... so, kami pikir lebih meyakinkan lah...
Perburuan dimulai...
Dari hasil searching di Google, diketahui dari beberapa blog orang2, bahwa tidak semua toko emas jual LM... Dari sana pula aku dapat informasi bahwa di Bandung ini ada 3 toko yang biasa jual itu barang, yaitu: toko mas Buana di Kosambi, toko mas Topaz n toko mas Indah di Otista... Btw thx untuk para penulis blognya yang udah kasih info, jadi kami ga perlu ngedatengin toko emas di seluruh sudut kota Bandung satu per satu buat nanya, "jual emas batangan ga, om, tante, teh..?"
Btw, di Buana emas batangannya yang resmi mestinya ada sertifikatnya... tapi mereka juga jual yang ga pakai sertifikat... katanya sih dari AnTam nya sendiri emang ga ada sertifikatnya... (tapi kok kayaknya kurang meyakinkan ya...masa AnTam memproduksi ada yang pakai sertifikat ada yang enggak... mana harganya per gram sama aja sama yang pakai sertifikat...)... Mereka juga jual koin emas ONH... 1 koin beratnya 5 gram... harganya bisa lebih rendah sekitar seribu-dua ribu per gram nya dibandingkan harga LM nya AnTam... Fyi, koin emas ONH bukan keluaran AnTam, lupa keluaran PT apa tapi secara resmi didistribusikan oleh Pegadaian...
Pernah di lain waktu di Buana keabisan... Jadilah kami ke Otista... Topaz juga keabisan... Untungnya di Indah masih ada stok... Beda sama di Buana.., di Topaz n Indah emas batangan ga di display... Jadi mesti tanya dulu... (Btw, waktu itu, di kala di Buana n Topaz keabisan stok sama sekali, Indah masih punya banyak kayaknya... Habisnya pas kami tanya dia masih punya yang 5 gram, 10 gram, 25 gram, dst, dengan kuantitas lebih dari 1)... Fyi, makin besar beli batangannya harga per gram nya lebih murah... Untuk yang ga punya kartu BCA, jangan lupa kalau mau beli ambil uang tunai dulu, coz rata2 toko emas cuma punya mesin dari bank itu... Kalau mau tetap pakai mesin itu bisa2 aja sih... tapi kena charge 3% dari harga yang dibayar... sayang kan...
Subscribe to:
Posts (Atom)